Menyapa Keramahan Kota Labuha Belum banyak yang tahu tentang kota ini. Aku sendiri pada awalnya hanya menjelajah setiap detail kota melalui visualisasi citra satelit saja, tanpa pernah membayangkan sebelumnya akan benar-benar menjejakkan kaki di tanah bekas jajahan Portugis itu. Sampai akhirnya aku berkesempatan menghirup udara dan senyatanya menjelajah salah satu kota di timur Indonesia itu. Kota Labuha berada pada koordinat Lintang 0°35’23.88” – 0°40’08.38” LS dan Bujur 127°26’59.82” – 127°36’48.24” BT, merupakan Ibukota dari Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara. Kota yang terletak di Pulau Bacan, salah satu pulau terbesar di Kabupaten Halsel ini memiliki luas ± 8.892 km² dengan jumlah penduduk ± 147.919 jiwa.
Citra Satelit Kota Labuha
Menuju Kota satu ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Setidaknya kita akan menghabiskan waktu satu hari satu malam. Setelah perjalanan ditempuh melalui udara hingga di Bandara Sultan Baabullah, Ternate. Kita masih harus mengarungi samudra lepas, menghabiskan malam selama kurang lebih tujuh jam di atas kapal kayu dari pelabuhan yang berada di daerah Bastiong, Ternate. Transportasi air ini jadwal pemberangkatannya hanya satu kali setiap harinya. Dengan awal pemberangkatan pada malam hari pukul 21.00 baik dari Ternate maupun dari Labuha. Meski termasuk kota kecil, Labuha sudah memiliki Bandar udara sendiri, bandara Oesman Sadik namanya. Dengan panjang landasan 850 m dan lebar 23 m, bandara ini dapat didarati pesawat jenis C-212 seperti Trigana air. Jadwal penerbangannya sendiri hanya dua kali dalam seminggu, yaitu hari Selasa dan Kamis.
Pelabuhan Bastiong, Ternate Waktu masih menunjukkan pukul 04.30 WIT ketika kapal merapat di pelabuhan Babang, Labuha. Meski masih terlalu pagi, kesibukan telah tampak. Para kuli saling menawarkan jasa membawa barang-barang yang kita bawa. Ku hela nafas perlahan. Di Jakarta baru pukul 02.30 saat itu. Ternyata bukan hanya melintasi pulau, aku juga harus melintasi perbedaan waktu. Segera kucek hp dan kudapati di display tertera tulisan “emergency calls only” . Lemas seketika, signal providerku di Labuha ternyata tidak ada (Disinyalir ternyata bukan tidak ada, melainkan pada saat aku di sana sedang mengalami gangguan). Rasanya ingin segera melihat matahari menampakkan dirinya, untuk sesegera mungkin mencari kios voucher/perdana. Bagaimanapun juga, komunikasi paling efektif di sana hanya hp. Aku khawatir tidak ada warnet yang memungkinkan ku untuk bisa cek email atau ber instan messenger. Ternyata memang tidak ada warnet. Internet hanya bisa diakses di kantor pemerintahan seperti Bappeda, itupun harus dengan kesabaran tingkat tinggi. Karena koneksinya yang masih lama.
45 Menit dari Pelabuhan Babang, tibalah aku di sebuah hotel yang cukup bagus dan luas. Hotel baru dengan warna cat kuning cerah. Palm hotel namanya. Berada di ruas jalan yang cukup sepi, masih jarang terdapat bangunan di sekitarnya. Harga per malamnya Rp. 200.000,- saja. Cukup nyaman untuk menjadi tempat tinggal selama tiga hari aku di sana. Jika kita malas mencari makan di luar, kita bisa memesan ke pihak hotel, dan kita akan mendapatkan menu makan yang benar-benar mengundang selera. Hotel Palm, Labuha
Labuha adalah kota pesisir, sehingga tidaklah aneh jika dalam jarak pandang tidak lebih dari 50 meter sudah terlihat hamparan laut. Sayang memang karena wilayah itu belum terpetakan untuk daerah wisata. Sehingga potensi laut yang dimiliki kota itu belum terekploitasi. Pantai Labuha
Berjalan sekitar 200 meter ke arah barat dari hotel, kita sudah bisa menikmati pemandangan laut dan aktifitas masyarakat pesisir pada umumnya, seperti kesibukan jual beli hasil tangkapan para nelayan di pasar ikan. Ada Banyak jenis ikan yang dijual di Labuha, diantaranya tongkol, tuna, samandar, cakalang, kakap merah, kembung, ikan goropa, lolosi, kutila, gaca dan bubura juga makanan laut lainnya seperti cumi, kepiting dan udang. Tidaklah heran, jika selama tiga hari di sana, menu makan utamanya pastilah ikan. Mulai dari ikan goreng, ikan balado, gulai ikan, bakar ikan sampai sup ikan. Untunglah aku penyuka ikan. Jadi sama sekali tidak bermasalah untuk urusan makan :).
Pasar Ikan Labuha
Ada yang menarik dari kota yang terkenal dengan batu bacannya itu. Setiap becak di sana dilengkapi dengan sound system. Lagunya pun lagu-lagu hit list. Nggak kalah deh dengan lagu-lagu yang sering didengar remaja-remaja Jakarta J. Mulai dari lagu-lagu Peter Pan, Ada band, Raja, Kerispatih, dll sampai lagu barat seperti lagunya MLTR (Michael Learns To Rock), Backstreet Boys, Bryan Adam, Mark Anthony dll. Keren lah pokoknya. Dan serunya lagi, suaranya bukan hanya terdengar oleh penumpang dan si abang becak saja, melainkan bisa terdengar dari jarak 100 m an. Stereo!!! Kalau malam hari, becak-becak di sana dihiasi lampu disco sekelilingnya, kelap kelip jadinya, seperti mau pawai Agustusan saja. Bukan cuma becak saja yang full music, mobil-mobil di sana pun begitu. Dari mulai mobil pribadi sampai angkot, full music. Becak Labuha
Atap-atap rumah di sana, entah itu bangunan modern atau tradisional, hampir semua terbuat dari seng. Bangunan hotel saja (yang hitungannya sudah merupakan bangunan permanen) masih beratapkan seng. Pertimbangannya adalah karena di sana sangat sulit untuk dapat menemukan tanah liat bahkan mungkin tidak ada (karena daerah pesisir) sehingga tidak ada pengrajin Genting. Kalau pun mau menggunakan atap genting, mereka terpaksa harus beli dari Pulau Jawa. Dan hal itu tentu saja sangat memakan waktu dan biaya. Selain itu, proses pemasangan seng lebih cepat. Ada 3 ciri khas lain lagi dari kota ini, yaitu Batu Bacan, Yakis bacan, dan Duku bacan. Semuanya dinamakan Bacan karena terletak di Pulau Bacan.
Menurut Pak Fajar (Geologist ITB), Batu Bacan merupakan batuan alterasi yang berasal dari batuan beku dan vulkanik dengan mineral penyusunnya terdiri dari kuarsa, krisokola, limonit, sedikit azurit dan pembawa tembaga dan besi. Bongkahan batu ini kemudian diolah menjadi batu-batu kecil, biasa digunakan sebagai aksesoris, seperti cincin, gelang, liontin atau giwang. Batu yang masih berbentuk bongkahan harganya bisa mencapai Rp. 1000.000,- per Kg nya. Sedangkan yang sudah menjadi batu perhiasan harganya mulai Rp. 50.000,- hingga jutaan rupiah. Batu Bacan asli biasanya warnanya hijau. Kita bisa langsung membeli bongkahan batu Bacan atau yang telah menjadi batu perhiasan langsung dari pengrajinnya. Atau jika ingin membeli batu Bacan yang sudah dijadikan aksesoris, seperti cincin, gelang dan kalung, bisa kita peroleh di Bandara Sultan Baabullah, Ternate. Di sana terdapat toko aksesoris yang akan memuaskan para pembeli. Bongkahan Batu Bacan
Adapun duku Bacan, sama halnya dengan duku yang lainnya. Namun konon rasanya lebih manis dan buahnya besar – besar dibandingkan dengan Duku Palembang. Sayang, ketika ke sana, bukan waktunya musim duku, jadi tidak bisa mencicipi langsung. Sedangkan Yakis merupakan sejenis kera. Yakis Bacan ini memiliki keunikan, dimana dia tidak memiliki ekor, bulunya hitam seperti lutung dan bagian belakangnya (tempat tumbuh ekor) berwarna agak kemerahan.
Yakis Bacan
3 hari di Labuha cukup membuatku terkesan. Selain karena kekayaan alamnya, juga keramahan penduduknya yang bikin betah. Masih banyak hal yang bisa digali dari Labuha, hanya saja, waktu 3 hari tidak cukup untuk menjelajahi detailnya. Entah kapan aku bisa berkunjung ke daerah multi etnik itu lagi. Labels: vacation |
wah,,oke juga nih postingnya..