| Wednesday, October 10, 2007 |
| Diary 20 |

Ketika lidah tak sanggup menahan kata yang membuatnya menorehkan luka Ketika tangan terpeleset merangkai manis kalimat Ketika senyum hambar terpotret Ketika kaki melangkah tak tentu arah
Ada ruang hati tertoreh Ada kejap mata terluka Ada degup menganga getir Ada kecewa Ada lara Dari kesengajaan Dari ketidaksengajaan Dari kesalahpahaman
Hanya maaf dari bening hati yang akan menyembuhkan
TAQABALALLAHU MINNA WAMINKUM SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1428 H MINAL AIDIN WALFAIDZIN
|
posted by eeya @ 12:21 AM   |
|
|
|
| Tuesday, October 09, 2007 |
| Article 13 |
Menyapa Keramahan Kota Labuha Belum banyak yang tahu tentang kota ini. Aku sendiri pada awalnya hanya menjelajah setiap detail kota melalui visualisasi citra satelit saja, tanpa pernah membayangkan sebelumnya akan benar-benar menjejakkan kaki di tanah bekas jajahan Portugis itu. Sampai akhirnya aku berkesempatan menghirup udara dan senyatanya menjelajah salah satu kota di timur Indonesia itu. Kota Labuha berada pada koordinat Lintang 0°35’23.88” – 0°40’08.38” LS dan Bujur 127°26’59.82” – 127°36’48.24” BT, merupakan Ibukota dari Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara. Kota yang terletak di Pulau Bacan, salah satu pulau terbesar di Kabupaten Halsel ini memiliki luas ± 8.892 km² dengan jumlah penduduk ± 147.919 jiwa.
Citra Satelit Kota Labuha
Menuju Kota satu ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Setidaknya kita akan menghabiskan waktu satu hari satu malam. Setelah perjalanan ditempuh melalui udara hingga di Bandara Sultan Baabullah, Ternate. Kita masih harus mengarungi samudra lepas, menghabiskan malam selama kurang lebih tujuh jam di atas kapal kayu dari pelabuhan yang berada di daerah Bastiong, Ternate. Transportasi air ini jadwal pemberangkatannya hanya satu kali setiap harinya. Dengan awal pemberangkatan pada malam hari pukul 21.00 baik dari Ternate maupun dari Labuha. Meski termasuk kota kecil, Labuha sudah memiliki Bandar udara sendiri, bandara Oesman Sadik namanya. Dengan panjang landasan 850 m dan lebar 23 m, bandara ini dapat didarati pesawat jenis C-212 seperti Trigana air. Jadwal penerbangannya sendiri hanya dua kali dalam seminggu, yaitu hari Selasa dan Kamis.
Pelabuhan Bastiong, Ternate Waktu masih menunjukkan pukul 04.30 WIT ketika kapal merapat di pelabuhan Babang, Labuha. Meski masih terlalu pagi, kesibukan telah tampak. Para kuli saling menawarkan jasa membawa barang-barang yang kita bawa. Ku hela nafas perlahan. Di Jakarta baru pukul 02.30 saat itu. Ternyata bukan hanya melintasi pulau, aku juga harus melintasi perbedaan waktu. Segera kucek hp dan kudapati di display tertera tulisan “emergency calls only” . Lemas seketika, signal providerku di Labuha ternyata tidak ada (Disinyalir ternyata bukan tidak ada, melainkan pada saat aku di sana sedang mengalami gangguan). Rasanya ingin segera melihat matahari menampakkan dirinya, untuk sesegera mungkin mencari kios voucher/perdana. Bagaimanapun juga, komunikasi paling efektif di sana hanya hp. Aku khawatir tidak ada warnet yang memungkinkan ku untuk bisa cek email atau ber instan messenger. Ternyata memang tidak ada warnet. Internet hanya bisa diakses di kantor pemerintahan seperti Bappeda, itupun harus dengan kesabaran tingkat tinggi. Karena koneksinya yang masih lama.
45 Menit dari Pelabuhan Babang, tibalah aku di sebuah hotel yang cukup bagus dan luas. Hotel baru dengan warna cat kuning cerah. Palm hotel namanya. Berada di ruas jalan yang cukup sepi, masih jarang terdapat bangunan di sekitarnya. Harga per malamnya Rp. 200.000,- saja. Cukup nyaman untuk menjadi tempat tinggal selama tiga hari aku di sana. Jika kita malas mencari makan di luar, kita bisa memesan ke pihak hotel, dan kita akan mendapatkan menu makan yang benar-benar mengundang selera. Hotel Palm, Labuha
Labuha adalah kota pesisir, sehingga tidaklah aneh jika dalam jarak pandang tidak lebih dari 50 meter sudah terlihat hamparan laut. Sayang memang karena wilayah itu belum terpetakan untuk daerah wisata. Sehingga potensi laut yang dimiliki kota itu belum terekploitasi. Pantai Labuha
Berjalan sekitar 200 meter ke arah barat dari hotel, kita sudah bisa menikmati pemandangan laut dan aktifitas masyarakat pesisir pada umumnya, seperti kesibukan jual beli hasil tangkapan para nelayan di pasar ikan. Ada Banyak jenis ikan yang dijual di Labuha, diantaranya tongkol, tuna, samandar, cakalang, kakap merah, kembung, ikan goropa, lolosi, kutila, gaca dan bubura juga makanan laut lainnya seperti cumi, kepiting dan udang. Tidaklah heran, jika selama tiga hari di sana, menu makan utamanya pastilah ikan. Mulai dari ikan goreng, ikan balado, gulai ikan, bakar ikan sampai sup ikan. Untunglah aku penyuka ikan. Jadi sama sekali tidak bermasalah untuk urusan makan :).
Pasar Ikan Labuha
Ada yang menarik dari kota yang terkenal dengan batu bacannya itu. Setiap becak di sana dilengkapi dengan sound system. Lagunya pun lagu-lagu hit list. Nggak kalah deh dengan lagu-lagu yang sering didengar remaja-remaja Jakarta J. Mulai dari lagu-lagu Peter Pan, Ada band, Raja, Kerispatih, dll sampai lagu barat seperti lagunya MLTR (Michael Learns To Rock), Backstreet Boys, Bryan Adam, Mark Anthony dll. Keren lah pokoknya. Dan serunya lagi, suaranya bukan hanya terdengar oleh penumpang dan si abang becak saja, melainkan bisa terdengar dari jarak 100 m an. Stereo!!! Kalau malam hari, becak-becak di sana dihiasi lampu disco sekelilingnya, kelap kelip jadinya, seperti mau pawai Agustusan saja. Bukan cuma becak saja yang full music, mobil-mobil di sana pun begitu. Dari mulai mobil pribadi sampai angkot, full music. Becak Labuha
Atap-atap rumah di sana, entah itu bangunan modern atau tradisional, hampir semua terbuat dari seng. Bangunan hotel saja (yang hitungannya sudah merupakan bangunan permanen) masih beratapkan seng. Pertimbangannya adalah karena di sana sangat sulit untuk dapat menemukan tanah liat bahkan mungkin tidak ada (karena daerah pesisir) sehingga tidak ada pengrajin Genting. Kalau pun mau menggunakan atap genting, mereka terpaksa harus beli dari Pulau Jawa. Dan hal itu tentu saja sangat memakan waktu dan biaya. Selain itu, proses pemasangan seng lebih cepat. Ada 3 ciri khas lain lagi dari kota ini, yaitu Batu Bacan, Yakis bacan, dan Duku bacan. Semuanya dinamakan Bacan karena terletak di Pulau Bacan.
Menurut Pak Fajar (Geologist ITB), Batu Bacan merupakan batuan alterasi yang berasal dari batuan beku dan vulkanik dengan mineral penyusunnya terdiri dari kuarsa, krisokola, limonit, sedikit azurit dan pembawa tembaga dan besi. Bongkahan batu ini kemudian diolah menjadi batu-batu kecil, biasa digunakan sebagai aksesoris, seperti cincin, gelang, liontin atau giwang. Batu yang masih berbentuk bongkahan harganya bisa mencapai Rp. 1000.000,- per Kg nya. Sedangkan yang sudah menjadi batu perhiasan harganya mulai Rp. 50.000,- hingga jutaan rupiah. Batu Bacan asli biasanya warnanya hijau. Kita bisa langsung membeli bongkahan batu Bacan atau yang telah menjadi batu perhiasan langsung dari pengrajinnya. Atau jika ingin membeli batu Bacan yang sudah dijadikan aksesoris, seperti cincin, gelang dan kalung, bisa kita peroleh di Bandara Sultan Baabullah, Ternate. Di sana terdapat toko aksesoris yang akan memuaskan para pembeli. Bongkahan Batu Bacan
Adapun duku Bacan, sama halnya dengan duku yang lainnya. Namun konon rasanya lebih manis dan buahnya besar – besar dibandingkan dengan Duku Palembang. Sayang, ketika ke sana, bukan waktunya musim duku, jadi tidak bisa mencicipi langsung. Sedangkan Yakis merupakan sejenis kera. Yakis Bacan ini memiliki keunikan, dimana dia tidak memiliki ekor, bulunya hitam seperti lutung dan bagian belakangnya (tempat tumbuh ekor) berwarna agak kemerahan.
Yakis Bacan
3 hari di Labuha cukup membuatku terkesan. Selain karena kekayaan alamnya, juga keramahan penduduknya yang bikin betah. Masih banyak hal yang bisa digali dari Labuha, hanya saja, waktu 3 hari tidak cukup untuk menjelajahi detailnya. Entah kapan aku bisa berkunjung ke daerah multi etnik itu lagi. Labels: vacation |
posted by eeya @ 12:36 PM   |
|
|
|
| Wednesday, September 12, 2007 |
| Diary 19 |

IKHLASKAN HATI MANTAPKAN DIRI TEGUHKAN NIAT KOKOHKAN TEKAD UNTUK MENIKMATI SETIAP JAMUAN ALLAH DI BULAN PENUH RAHMAT & AMPUNAN
MAAF LAHIR & BATIN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1428 H SEMOGA SENANTIASA MENDAPATKAN KEBERKAHAN DAN RIDHA ALLAH SWT. AMIN AMIN ALLAHUMMA AMIN
|
posted by eeya @ 10:18 AM   |
|
|
|
| Tuesday, June 26, 2007 |
| Diary 18 |
Mohon Doa Restu
:::Barokallahu Laka Wabaroka'alaika Wajama'a Bainakuma Fi Khoir:::



Denah Lokasi Menuju Perayaan Cinta 
|
posted by eeya @ 11:30 AM   |
|
|
|
| Tuesday, April 10, 2007 |
| Article 12 |

Frame 26
Kembali menjejak hari dalam derap yang selalu tak sama. Menyambut mentari di paginya hari ke 5 di bulan ke 4 setiap tahunnya. Selalu mengajakku untuk tafakur, menyelami hati, jauh menembus ke dalam alam renungan. Waktu kian merujukku untuk semakin dapat memantapkan langkah. Memastikan arah tujuan. Banyak hal telah kudapat. Meski banyak hal yang kuingini masih tersimpan dalam –Arsy- ilmu-Nya. Allah telah memberikan semua yang aku butuhkan (Sempurna!!! Mestinya kata ini yang terucap). Tapi semua itu selalu saja –seolah- luput dari sadarku. Banyak yang tak tersyukuri. Padahal betapa mudahnya, bersyukur aku, maka nikmat-Nya kian ditambahkan, dan lalai aku, azab-Nya terlalu pedih –dan aku tidak akan sanggup menanggungnya-. Naudzubillahimindalik…Semoga aku menjadi golongan ahli syukur. Amiiinnn
Merangkak perlahan, lebih dari seperempat abad sudah kini. Kumpulan tahun yang semakin bertambah jumlahnya. Itu artinya, amanah yang harus ku emban semakin tak sedikit. Selalu mengingini diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu adalah sebuah keharusan. Bisakah kugunakan sisa waktu yang diberikan ini bermanfaat? Bisakah berarti? Atau hanya sekedar hidup tanpa makna? Inilah pilihan…
Di hari yang sama satu tahun kemarin, tak pernah terpikirkan jika satu tahun kemudian, akan banyak hal yang membuatku –begitu- takjub. Dan semakin menambah pemahamanku jika masa depan hanya dimiliki Sang Pemilik Kehidupan, benar-benar tersembunyi, penuh misteri, dan hanya bisa diimani. Tak ada yang mengetahuinya, bahkan ketika kita telah merencanakannya sekalipun. Bisa jadi sesuai harapan atau bahkan Allah memberi ‘alternatif’ lain yang lebih baik. Skenario Allah adalah sebaik-baik skenario. Selalu mengesankan, penuh kejutan-kejutan, seringkali membuat si pelaku mengharu biru, tertawa bahagia atau menangis. Sungguh! Apapun ‘tema’ nya, Dia Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.
Satu tahun lalu di saat seperempat abad usiaku…Aku masih dalam bingkai kesendirian, masih terbingkai kehendak, terbingkai ego, terbelenggu harap yang tak jelas. Bingkai hidup yang kupunya hanya ‘sekedar’ saja, meski aku menyukainya dan aku bahagia. Kini, di saat umurku bertambah lagi, aku dihadiahi keindahan dan kebahagiaan yang benar-benar membingkai hidupku. Melengkapi haknya aku sebagai perempuan. Di tahun ini pula, InsyaAllah aku akan menggenapi separuh agamaku dengan sunnah Rasul Nya (Semoga dimudahkan...). Benar-benar kado istimewa. Allah menghadiahi aku seseorang yang –kelak- akan menjadi imamku. Dan seseorang itu telah menghadiahiku bingkai kebahagiaan yang penuh dengan segala nuansanya pada saat ku menapaki jalan di langkah ke 26.
Biru Laut, 100407, 16.00 pm |
posted by eeya @ 4:00 PM   |
|
|
|
| Monday, April 09, 2007 |
| Poem 31 |

Ketika cinta memberi arti di hatimu Maka cintai aku dalam amarahmu Kasihi aku dalam rona bencimu jua Jika di beranda hatimu ada bukit kecewa karena naif nya lakuku Cintai aku dalam dera mu Dalam jeda jengkel yang mungkin menggelayut dalam pikirmu Luaskan nasehatmu untukku Ketika ku cemburu Redamkanlah dengan sebenar benar cinta di hatimu Jika ku rindu Datanglah dengan selaksa kasihmu Dalam amarahku Ingatkan ku dengan pelukan maafmu Ketika tempias di wajahku membeku Hangatkan selalu dengan senyum dan sentuhanmu Ketika ku merasa tiada Temanilah selalu hatiku dengan cintamu Temani ragaku dengan hadirmu Candai laraku dengan tulusmu Karena hanya dengan itu, aku kan merasa selalu ada Selamanya...
Biru Laut, 090407, 11.00 am |
posted by eeya @ 2:20 PM   |
|
|
|
| Thursday, March 22, 2007 |
| Diary 17 |
   

Jejak-Jejak Cinta II
10 Maret 2007 (Senangnya aku ‘resmi’ dilamar…) Pukul 04.30…Aku dikagetkan bunyi sms yang ringtonenya cukup membuatku terbangun. Dalam keadaan setengah sadar aku baca sms nya, ternyata dari my chubby “…Alhamdulillah, aku dah nyampe hotel, tapi tas baju kebawa bus…”. Alhamdulillah, syukurku spontan terucap. Tapi sebentar…Apa tadi ya, kalimat selanjutnya? Kembali aku baca smsnya, sampai 3 kali, barulah aku ngeh…What??? Astaghfirullahaladziiimmm…Ada-ada aja. Aku tersenyum, geli juga. Udah sangat lega, jarak ratusan kilo antara timur-barat telah mereka lewati. Eh, pas nyampe, travel bag nya jalan-jalan sendiri, hehe . Tapi aku tidak begitu cemas. Bus yang dipake –InsyaAllah- armada terpercaya, dan aku yakin, nggak akan ilang. Masih di kamar, ketika mama membuka pintu perlahan dan membangunkanku. Ketika dilihatnya aku sudah terjaga, pertanyaan pertama yang keluar “Gimana teh, aa dan ortunya dah nyampe?” “Udah ma, tapi tasnya kebawa sama bis” jawabku seraya tersenyum .
Pukul 06.30…Berdua kakak sepupu, aku segera meluncur menuju garasi Bahagia Utama di Sindang Kasih. Memakan waktu 45 menit untuk sampai ke sana. Sebelumnya aku dapat informasi, buka kantornya pukul 07.00. Maka tepatlah. Ketika aku tiba, kesibukan sudah mulai terlihat. Tidak sulit untuk mendapatkan info, untunglah aku ingat jadwal pemberangkatannya. Jadi mempermudah petugas untuk melacaknya. Tunggu punya tunggu, bus yang dimaksud ternyata masih tertahan di Terminal bus kota Banjar. Petugasnya bilang, bus baru nyampe garasi sekitar pukul 10.00 an. Gubraks!!! Lama amat!!! Tanpa ba bi bu lagi, aku menawarkan diri untuk langsung mengambil sendiri ke Banjar. Hmmm lumayan…pagi2x dah ‘ngetrek’ (sejenak aku lupa klo aku –lagi- nervous ). 45 menit setelah pukul 07.30 tiba juga aku di terminal bus Banjar. Baru saat itu aku menjejakkan kaki di sana. Untung saja terminalnya tidak besar, jadi tidak terlalu sulit untuk menemukan bus dan travel bag yang ‘bandel’ jalan2x sendiri itu . Prosedur pengambilannya pun sangat mudah, karena sebelumnya petugas garasi Sindang Kasih sudah konfirmasi. Huaaahhhh Alhamdulillaaahhh, tas beserta isinya selamat .
30 menit berikutnya aku sudah di pelataran parkir hotel tempat my chubby n camer menginap. Kesadaranku pulih, dan kembali aku merasa nervous luar biasa. Bocoran nich, meskipun aku akan tampak –sangat- tenang di luar, semua akan luntur ketika bersalaman, karena telapak tanganku seperti es, duingin, hampir beku . Itu masih mending, dibanding jika plus mukaku memerah kayak udang rebus…tengsin dech !!! Meski begitu, aku berharap, saat itu aku bisa langsung ketemu sama camerku, tapi kata my chubby mereka belum pada mandi (iyalah, kan pakaian gantinya ada di tas yang -sempet- ilang ...), ya sudah, sepertinya memang ketemunya harus di rumah…
Pukul 09.30…Sampai juga aku di rumah. Aku disambut sama adik sepupu dan langsung menyeretku masuk kamar. Aku ‘didikte’ nya untuk segera berpakaian rapih dan bersolek. Halllah!!! Aku menggeleng keras! Nggak! Nggak! Aku nggak mau didandanin. Ah! Pada rese dech . Mereka ngerti banget lagi klo aku grogi abis. Jadi di ‘ceng’ innya juga abis2xan. Nasib! Nasib! Sialnya, aku jadi keliatan bener2x nervous di depan mereka. Pakai kerudung aja jadi gagal melulu . Padahal biasanya sekali jadi. Dan bukan kali pertama aku pakai model yang seperti itu. Waktu rasanya lambat merambat. Aku susah duduk santai. Sedikit sedikit nengok ke luar. Sedikit saja terdengar deru mobil, kepala segera menoleh. Parahnya semua tingkah polahku nggak luput dari perhatian para sepupu tersayang. Tentulah aku jadi ‘objek penderita’ . “Wah! Tangannya ampe gemetaran begini” adik sepupuku mengerling nakal . Sumpah! Kesel banget! Aku nggak gemeteran, Cuma dug dug aja jantungku, dan tanganku…Cuma dingin qo . Nggak lama, adik sepupuku bilang dengan semangat “Nah! Akhirnya datang juga” . Tahunya? Dia Cuma godain aku aja. Aduuhhh!!! Keder dech. Lama2x kakak sepupuku call adik sepupuku yang jemput mereka “udah nyampe mana? Cepetan, ada yang udah nggak sabar nich” Alalah sama aja. “Tenang d, mereka dah deket qo ” kakak sepupuku melirikku seraya tersenyum usil.
Setelah sekian lama menunggu (padahal cuma satu jam saja ), my chubby beserta ortunya tiba di rumahku. Kami (aku, ortu, dan saudara2x) menyambut kedatangan mereka di teras. Walah!!! Makin nggak karuan rasanya. Plong tapinya, akhirnya aku bertemu dengan camer tercinta (jangan chubby aja dunk yang tercinta ). Perkenalan sedikit oleh papaku seraya kami bersalaman. Dan pada saat itulah aku pertama kali cipika cipiki sama Ibu (my chubby pasti sirik dech ). Sedikit demi sedikit aku mulai rileks dan bisa menguasai keadaan (sebelumnya kan semrawut tak berbentuk ). Meski begitu, aku benar-benar jadi pemalu rasanya. Setelah bersalaman dan mempersilahkan mereka duduk, aku langsung ‘ngumpet’ ke dapur, pura2xnya mau nyiapin minuman buwat mereka, yang ada malah kena ‘ceng’ lagi ketika aku nawarin buwat bawa minuman ke ruang tamu “jangan! Biar teteh aja d. Ntar klo malah tumpah di depan camer kan tengsin!”, terang aja, candaannya bikin ketawa yang denger. Akulah sendiri yang –pura pura- pasang wajah bete .
Kurang lebih pukul 11.00, acara inti dimulai. Diawali dari pembacaan ‘curiculum vitae’ (hihihi udah kayak pembicara dalam seminar aja) oleh Bapak (Ayahnya my chubby), sampai maksud kedatangan yang sengaja datang jauh-jauh (Jawa Timur paling Timur ke Jawa Barat -untung- nggak paling Barat ) yang tiada lain dan tiada bukan untuk meminangku. Semua yang ada di situ, menyimak dengan seksama. Ada kakek dan nenek dari pihak papa, ada uwa (kakak papa & mama) dan adik nenek. Selanjutnya setelah Bapak selesai menyampaikan semua maksud dan tujuannya, giliran papaku yang membacakan ‘curiculum vitae’ keluargaku, yang berujung pernyataan menerima akan pinangan yang telah disampaikan Bapak. Mendengar semua pembicaraan mereka, perasaanku diliputi keharuan yang amat sangat. Tak bisa terlukiskan, bergumul menjadi satu di benak . Benar-benar berbeda dengan ketika tanggal 23 Desember 2006 lalu, my chubby datang sendiri ‘memintaku’ langsung sama papa.
Tak memerlukan waktu yang lama ternyata untuk membicarakan hal serius sekalipun, asalkan teragendakan dengan jelas. Pukul 11.45, acara lunch bareng. Namanya juga di desa, jadi menunya pun khas desa. Dengan sambal dan lalap menu utama . Dari lunch itulah aku bisa duduk bersama dengan Bapak dan Ibu sekaligus berbincang seadanya dengan mereka (masih malu-malu gitu deehhh ). Selera makanku belum ‘on’, padahal menunya biasa bikin aku nambah. Rasanya susah banget masuk. Alhasil –lagi2x- kena ‘ceng’ an “Ya, bisa masuk apa makannya?”, aku nyengir aja dengernya “nggak, teh”. Efeknya…2 hari setelahnya lambungku perihnya ampun2xan, ketahuan kan klo aku ternyata stress hehe. Karena maagku kumat klo aku makan nggak bener dibarengi stress .
Pukul 12.15…Acara bebas dan berbincang supaya suasana lebih akrab, sambil menikmati hidangan alakadarnya. Ada buah-buahan hasil kebun, seperti manggis, duku, sama rambutan, dan beberapa makanan ringan. Sesekali terdengar derai tawa diantara bincang mereka. Aku tersenyum bahagia. Aku berharap acara lamaran kemaren dapat meninggalkan kesan mendalam, bukan saja buwatku, keluargaku, my chubby dan keluarganya, tetapi juga buwat semua yang menyempatkan hadir. Amin . Sampai acara selesai, aku tidak menampakkan diri di ruang tamu. Karena kupikir aku posisinya sudah jelas, jadi kubiarkan saja para orangtua yang berbincang bincang (jadi nervousnya nggak kentara kan ).
Acara break pukul 12.30 untuk menunaikan shalat Dzuhur. Setelahnya moment yang ditunggu. Yup! Apalagi klo bukan acara foto-foto. Langsung pasang aksi dech. Kakak sepupuku ‘didaulat’ jadi fotografer dadakan (tapi te-o-pe dech hasilnya. Thanks a lot sist ).
Pukul 13.00…Setelah puas difoto, dan dirasa cukup berbincang, my chubby dan kedua orangtuanya berpamitan, begitupun aku. Rasanya berat…Namun dari jauh-jauh hari, dalam hati sudah aku niatin, aku akan balik ke Jakarta bareng sama my chubby dan camer. Karena hanya dengan cara itu, aku bisa mengenal lebih dekat kedua orang tua ‘baru’ ku. Aku tidak ingin ketika aku nikah, aku masih ‘kagok’ bersama mereka. karena untuk berkunjung ke rumah my chubby sebelum nikah, sepertinya tidak memungkinkan. Orang pertama yang aku pamitin adalah mama. Seperti biasa, aku cium tangannya. Aku pikir setelah itu hanya akan cium pipi kiri dan kanan saja (seperti yang biasa kami lakukan). Tapi ternyata tidak. Tiba-tiba mama memelukku erat sekali. Wajahnya dibenamkan di dadaku. Tak lama kudengar isak yang tertahan. Oh! God! Mama menangis. Aku tahu, itu tangisan bahagia. (Ini kali kedua mama menangis untuk ‘prosesiku’. Pertama dulu ketika aku wisuda). Suaraku tercekat di tenggorokan . Aku tak bisa berkata-kata . Karena sekali meluncur kata-kata, aku yakin, air mataku pun tak bisa terbendung. Aku hanya bisa membalas dekapan mama yang semakin erat. Rasanya mama enggan sekali melepasku saat itu. Dalam hati, aku pun menangis . Aku diam, tapi sejatinya hatiku berbicara banyak. Dan aku tahu, mama akan merasakan itu. Karena hati kami seolah menyatu. “Mama…doakan anakmu ini agar bisa menjadi perempuan tangguh sepertimu. Menjadi istri yang selalu dapat menentramkan dan menyejukkan hati suami. Yang kelak bisa menjadi bidadari di dalam syurga-Nya karena pengabdian cinta karena Allah pada suami dan keluarga. Agar kelak bisa menjadi Ibu yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Dan agar bisa menjadi perempuan yang selalu bisa menempatkan diri dimanapun berada”. Hatiku basah...Selesai ku berkata dalam hati, pada saat itu pula, mama perlahan melepaskan dekapannya dan menciumku . Ah! Mama! Betapa aku sangat mencintaimu …Aku tak berani memandangnya. Untunglah, semua telah menungguku di luar, jadi –rasanya- sedikit yang ngeh klo mama menangis. Aku meninggalkan rumah dengan tatap nanar semua mata yang mengiringi kepergianku dengan keharuan penuh...
Papa mengantar kami sampai terminal Tasik. Cukup lama kami menunggu bus. Dan kumanfaatkan setiap waktuku untuk berbincang dengan Bapak dan Ibu. Subhanallah, semua kekhawatiranku (sebelum bertemu mereka) sirna sudah. Komunikasi diantara kami terjalin dengan sangat baik (Alhamdulillah). Kebetulan Ibu juga orangnya suka ngobrol, jadi kloplah . Aku udah nggak nervous lagi, tapi lambungku masih tetep periiihhh, hiks! .
Pukul 16.00…Kami baru meninggalkan terminal Tasik ber bus Budiman. Seperti rencanaku semula, aku memilih duduk sama Ibu. Selain biar makin ‘intim’ sama Ibu, aku sama my chubby jadi lebih bisa menjaga hati karena nggak duduk berdampingan . Aku sangat menikmati perjalanan pulang kemaren. Ibu bercerita banyak tentang keluarga besarnya, tentang keadaan di rumah, sampai masa kecil my chubby. Berkesan banget dech. Asyik juga loh ternyata memiliki orang tua ‘baru’. Yang ngasih nasihat-nasihat atau masukan jadi nambah. Bahkan ada tempat buat ‘mengadu’ dan minta do’a restunya . Biasanya, baru beberapa kilo keluar terminal, aku sudah terlelap. Tapi tidak berlaku kemarin. Rasa kantuk tak kunjung menghampiriku. Selain asyik ngobrol sama Ibu (dan kadang juga sama Bapak dan my chubby tentunya), aku menahan perih lambung saat itu. Tapi seolah tak terasa, karena perasaanku bahagia banget. Alhamdulillahirabbil’alamin…
Pukul 21.00…Aku sampai di kos. Huaaahhh…legaaa buanget rasanya. Satu tahap menuju hari H sudah kami lewati. Semoga niat kami selalu diluruskan, selalu dimudahkan dan dilancarkan setiap langkah. Amin…
Thanks to: Ortuku dan ortunya my chubby atas do’a restu nya. Adik semata wayangku, Lana. Makasih dah mau bangun pagi buwat jemput calon kakak ipar, meski abis itu (tetep) tidur lagi  . Teh Anie n Ai yang selalu ngasih support, kalian tahu kisahku dari awal  . Bi Erna, my trend setter (ehm!), Dv, tim penjemput hehe (makasih ya d!), dan buwat Teh Atik, sorry dah direpotin. Tapi suer!!! Makanannya so yummi…makasih buanget. Dan buwat kakek, nenek, uwa. Makasih atas kehadirannya juga atas komentar2x nya  . 11 Maret 2007Aku sama my chubby nganter Bapak & Ibu ke bandara. Aku udah lebih santai bersama mereka. Sayang, mereka harus segera pulang, karena (calon) keponakanku pasti dah nunggu di sana. Terimakasih Bapak & Ibu, semoga Indry bisa menjadi bagian dari keluarga besar di sana dan dapat memberikan yang terbaik buwat suami dan keluarga kelak. Amin  ********** Tinggallah aku dan my chubby…Minggu-minggu berikutnya adalah perjuangan. Semua hal harus sudah mulai teragendakan. Kata orang, menuju hari H, akan sangat banyak godaannya, dan dari berbagai penjuru. Duh! Mengerikan juga. Tapi semoga kami kuat menghadapi semuanya. “Ayuk mulai besok kita jalani hari-hari dengan penuh semangat (dan cinta)!”. Sms my chubby yang dia kirim malam itu, sangat memotivasiku dan InsyaAllah membuatku –semakin- mantap dan yakin  . Biru Laut, 22 Maret 2007, 12.25 pm 118 hari hitungan mundur…
|
posted by eeya @ 4:45 PM   |
|
|
|
|
| Diary 16 |
Jejak-Jejak Cinta I
20 Februari – 2 Maret 2007 Untuk pertama kalinya aku ditinggal bertugas ke luar pulau oleh my chubby (chubby = calon hubby ) dalam waktu yang cukup lama, 10 hari. Rencana-rencana yang sudah terjadwal, terpaksa mundur. Yang rencana awal, lamaran akan dilaksanakan tanggal 3 Maret dimundurkan seminggu kemudian. Saat inilah aku merasakan hari-hari menahan kerinduan (dan kehilangan) yang amat sangat. Belum lagi dengan berita-berita kecelakaan transportasi yang membuatku was was . Dia harus melewati Trans Celebes sepanjang kurang lebih 1500 kilo. Ough! Membayangkannya pun aku sudah ikut capek, apalagi yang menjalaninnya. Tanggal 25 Februari diberitakan bangkai kapal KM Levina I yang sedang di evakuasi menuju pelabuhan Tanjung Priok mendadak miring dan terbalik sehingga menenggelamkan kapal yang berisi belasan orang di dalamnya. Yang membuatku was was, karena banyak orang media yang menjadi korban(Bidang pekerjaan yang sama dengan my chubby). Sungguh pekerjaan yang sangat beresiko. Meski aku tahu setiap pekerjaan pasti memiliki resiko. Kata dia bagi ‘pemburu’ berita “bad news is a good news”. Makanya mereka memburu sebuah peristiwa –kadang- tanpa memperhatikan keselamatannya sendiri. Ketika dia mengabarkan akan tiba di Poso (27 Februari), lagi-lagi aku senewen, khawatir konflik akan mempengaruhi kelancaran pekerjaannya. Alhamdulillah, semua dimudahkan-Nya. Ah! Aku terlalu takut, padahal hidup dan mati ada dalam genggaman-Nya. Dan aku yakin Tuhan akan melindungi siapa saja yang memohon pada-Nya. InsyaAllah….
2 Maret 2007 Alhamdulillah, dia tiba dengan selamat di Jakarta. Bersamaan dengan itu akupun pergi ke Bandung. Aneh! Bukan nya menyambut, malah seperti yang menghindar. Padahal memang kondisinya seperti itu. Jadi memang harus digenapkan mungkin, aku dan dia baru bisa bertemu setelah berpisah selama 2 Minggu, tanggal 6 Maret, hari Selasa.
4 Maret 2007 Senangnya bisa kumpul bareng sama temen temen milis Urang Sunda. Makan-makan di Sindang Reret Ciwidey dan rekreasi di Situ Patengan (lihat postingan sebelumnya: Kopdar Ciwidey). Aku bisa sekalian pengumuman gratis, meski setelahnya harus rela jadi bahan guyonan mereka (untung sudah biasa ). Alhamdulillah hari ini dia juga nyampe di rumahnya. Dan orangtuanya siap bertandang ke rumahku tanggal 10 Maret besok. Aku mulai deg-degan…
5 Maret 2007 Aku sudah kembali beraktivitas. Dan betapa senangnya, ketika aku tahu dia menggunakan pesawat dengan jadwal penerbangan pukul 13.55. Itu artinya, kita masih bisa ketemu makan malam dan tidak harus nunggu genap 2 minggu. Lumayankan minus 1 hari. Tapi ternyata tidak demikian. Hingga pukul 16.00 aku belum dapat kabar landing dari nya (padahal Surabaya – Jakarta hanya membutuhkan waktu satu jam)…Aku mulai cemas. 30 menit aku masih bisa bersabar menunggu telp nya.Pukul 16.30 aku kirim sms padanya dan ternyata pending. Baru pukul 16.45 sms ku delivered. Lega ketika kuterima balasnya. Tapi setelahnya aku langsung lemes karena smsnya berbunyi “…pesawatnya mendarat darurat di Palembang. Entah kapan dialihkan ke Jakarta. Mohon doanya aja…”. Ya Allah, ada apa ini? Aku langsung panik. Apalagi ketika ku telp nggak ada jawaban (ternyata lowbat :)). Saat itu juga aku langsung ngasih kabar orang2x yang selalu bisa menguatkanku setiap kali aku lagi kalut. Benar saja, setelah puas bercerita, aku tenang dan tak henti berdoa dan menunggu kabar bahwa dia (harus) baik baik saja. Lama rasanya jarum jam bergerak. Klo nggak liat jam, aku melirik ke hp, memasang telinga baik baik, takut deringnya tak –sempat- terdengar dengan hati tetap memohon agar dia tetap ada dalam lindungan-Nya. Aku benar-benar merasa lega dan tak henti mengucap syukur ketika sekitar pukul 19.00 dia mengirimiku sms “…Alhamdulillah, aku dah nyampe Cengkareng”. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Tak masalah aku nggak bisa bertemu dia hari ini, yang penting dia tiba di Jakarta dengan selamat. 
8 Maret malam… Gerimis membasahi bumi Jakarta ketika aku hendak menuju terminal Rambutan. Perasaanku sudah tak bisa terkatakan, berupa warna…Bukan saja senang karena akan pulang ke rumah, tapi lebih dari itu. Hatiku harap-harap cemas menanti mentari menyambut pagi hari Sabtu dengan keriangannya. Sebenarnya aku ingin dia bisa mengantarku malam itu. Tapi aku mengerti kesibukannya. Dia sendiri baru bisa pulang pukul 01.00 dini hari. Aku mencemaskan kesehatannya, karena besok pagi dia harus sudah terbang ke Surabaya untuk menjemput kedua orang tuanya. 9 Maret… Pukul 04.00…Aku tiba di rumah. Alhamdulillah. Pada saat yang bersamaan, dia pun sedang menuju bandara menembus hujan yang mengguyur jakarta pagi itu. Oh! God! Semoga saja cuaca cerah ketika take off nanti, gumamku. Aku tahu dia menahan kantuk, karena sejak malam tadi, dia tidak menyempatkan diri untuk mengistirahatkan matanya yang lelah barang sejenak pun, “takut kebablasan” begitu dia bilang. Rabb! Aku jadi tidak bisa mengatakan apapun kecuali “semoga selalu diluruskan niatnya…”. 
Meski mataku sudah berat, tak lantas aku tidur, karena seperti biasa, setiap kali sampai rumah, selalu ada saja hal yang dibicarakan. Begitupun pagi itu. Barulah saat adzan Subuh berkumandang, aku masuk kamar, mandi dan menunaikan shalat. Belum bisa terpejam mata ini sebelum aku yakin dia sudah tiba di bandara dan mulai take off. Pukul 06.56 smsnya nyampe di hp ku “…aku mulai take off, hp aku matiin, ntar aku sms klo dah nyampe Surabaya” begitu kurang lebih bunyi smsnya.
Pukul 09.00...Aku baru terbangun dan bergegas cek hp, berharap sudah ada sms darinya. Tapi ternyata belum. Aku sms dia, pending…Aku lihat bar signal, hanya ada 3 garis, dan itupun berwarna kuning (yaaahhh cyuape deeehhh ). Tapi cukuplah untuk terima sms pikirku. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00 dan hpku belum juga bersuara. Pikiranku mulai jelek, aku nggak mau mendengar hal-hal yang bikin panik lagi. Bergegas ku ke teras rumah, mencari signal penuh (kasiaannn, mentang2x rumahku terpencil, signal provider GSM ku masih on off aja klo di dalam rumah …). Ku dial no hp nya…ga nyambung…Baru sekitar pukul 13.00, sms ku delivered. Tak berselang lama, ada lagi sms nya yang ketika kulihat waktu kirimnya tertera pukul 08.45. Alamaaakkk gara2x signal nggak stabil, baru masuk tuh sms…
Pukul 14.30…Aku keluar rumah, booking hotel buwat my chubby dan camer (ehm! ). Pukul 15.00…my chubby n camer take off dari Surabaya. Sementara aku 'keliling' ke Tasik bareng adik, kakak sepupu n tante (Psssttt, saat itu aku sudah –semakin- tidak selera makan…nervous buanget…)
Pukul 16.00…Alhamdulillah, my chubby sama ortunya dah sampe Jakarta. Legaaa…Tapi perjalanan masih 6 jam lagi menuju kota manis…Aduh! Semoga ikhlas ya…Pukul 22.00, mereka start dari terminal Kampung Rambutan naik bus Bahagia Utama. Perasaanku makin nggak karuan menunggu esok hari. Antara senang, takut, khawatir, haru…Benar-benar ngefek ternyata…’kecuekanku’ pergi entah kemana…Kantuk tak jua mengunjungiku. Malah ketika sepupu2x ku sudah membenamkan khayalnya di alam mimpi, aku masih terpaku di depan tv, tapi entah apa yang kutonton, konsentrasiku buyar. Lelah sebenarnya, tapi mata tak kunjung mau terpejam. Baru sekitar pukul 01.30 aku terlelap dan benar benar…lupa. 
Bersambung ke: Jejak Jejak Cinta II ;)
|
posted by eeya @ 4:15 PM   |
|
|
|
|
| Article 11 |
Menetapkan Pilihan Hati
“Menikah! Sebuah prosesi yang InsyaAllah akan menggenapkan setengah Din kita. Tak terbayang, -atau lebih tepatnya belum-. Belum terangankan kalau aku ingin cepat-cepat melepas masa lajangku. Masih sangat banyak cita-cita yang belum terwujudkan. Yaaa, meski aku tahu, menikah bukanlah merupakan penghalang untuk terus berjuang. Bahkan mungkin akan lebih mempermudah, karena ada partner yang akan selalu menjadi supporter kapanpun dibutuhkan. Dan akupun mengerti, segala sesuatu yang dilakukan setelah menikah –dan ikhlas tentunya- akan lebih bernilai dan pahalanya lebih besar dibandingkan ketika hidup melajang. Tapi ketika aku harus segera menentukan pilihan, melangkah maju, bertahan menunggu waktu atau malah mundur…aku merasa berada dalam kubah tak berbentuk…Ada banyak hal yang melingkupi ruang pikirku, tak cukup hanya melihat kesempurnaan fisik, kemapanan materi, dan ketahanan mental, tapi lebih kepada keyakinan hati…”
Membaca penggalan kalimat di atas, aku jadi senyum senyum sendiri. Kalimat itu bahan tulisanku yang tidak –sempat- jadi hampir 6 bulan yang lalu. Setelah kalimat ini ‘…tapi lebih kepada keyakinan hati…’ entah kenapa ide menulisku buntu dan tidak ada keinginan untuk meneruskannya lagi. Dan aku kembali berkutat dengan pemikiran2x itu…melangkah maju, bertahan atau mundur…Terus menerus hingga aku benar-benar dihadapkan pada ‘deadline’…Ya atau tidak sama sekali. Akupun tidak ingin terjebak dengan 'doktrin' itu. Yang tahu isi hatiku hanya aku dan Yang Menggenggamnya, maka aku tidak ingin mengikuti keinginan-keinginan sesaat yang justru akan menjerumuskanku ke dalam kebohongan-kebohongan atau ‘dia’ hanya kujadikan labuhan sementara, yang selanjutnya aku akan kembali berlayar tanpa arah –lagi-. Aku tahu ada satu hati yang siap menjaga hatiku selamanya. Tapi aku tidak ingin ‘terkecoh’. Aku harus benar-benar yakin, yang kuingini bukan sekedar bisikan emosional, tapi yang tumbuh adalah karena petunjuk Tuhan. Aku lebih memilih tidak jika tidak sepenuh hati.
Mungkin aku terlalu 'arogan' untuk segera mengakui dan menyadari bahwa aku sebenarnya sangat takut kehilangan dia. Lamanya waktu tak lantas melunakkanku begitu saja. Ketika dalam satu percengkramaan dia berucap “Apapun keputusanmu, kita akan tetap menjadi sahabat. Aku tidak akan berubah, hanya (mungkin) porsinya saja yang berbeda”. Rasanya aku tertegun membaca tulisan di layar YM ku saat itu. Porsinya beda? Itu artinya, dia tidak akan se care sekarang? Itu berarti aku tidak lagi menempati urutan pertama dalam prioritasnya…Dan aku tidak memiliki hak apapun, kecuali sebagai sahabatnya??? Egoku masih terlalu besar saat itu. Aku masih berpikir, ya apa itu salah? Itu kan haknya dia. Emang aku apanya dia? Terserah dia mau berbuat apapun, semua kan tidak bisa dipaksakan… Duh! Maafkan keangkuhanku saat itu sayang…
Aku tidak menolak keadaan. Aku hanya benar-benar ingin hatiku yang mengatakan “iya”, bukan mulutku. Sejak aku mengenalnya, aku memiliki kebanggaan tersendiri, karena aku punya teman seorang penulis (sementara bagiku menulis hanya sekedar kesenangan belaka). Aku senang ngobrol dengannya. Dia yang selalu memberiku motivasi untuk terus menulis. Makanya aku tidak berniat untuk menghindar darinya (dan memang nggak bisa). Dan saat itu hanya itu alasanku mau dekat dengannya, tidak yang lain. Kehendak yang Kuasa, jika setelahnya dia menjadi orang yang benar-benar akan menemaniku selamanya. InsyaAllah.
Maha Suci Allah, Maha pembolak balik hati. Dan benarlah seorang bijak berkata “kita akan baru merasa kehilangan seseorang, ketika kita berada jauh dari seseorang itu”. Desember 2006 awal (5-9), aku ditugaskan ke luar kota, ke sebuah pulau di Maluku Utara. Mulai terasa kehilangan itu. Yang biasanya setiap hari aku mendapatkan telp nya ketika makan siang atau malam menjelang, atau berlama lama chating via YM. Ketika di sana, aku hanya bisa dapat sms nya. Hari-hari terasa ada yang kurang. Meski aku menikmati pekerjaan selama di sana, senyatanya aku ingin sekali segera pulang. Apalagi ketika di sana tidak ada signal ponsel. Wah! Nggak karuan dech…
23 Desember 2006 adalah awal ku makin merasa yakin bahwa dialah yang dipilihkan Tuhan untukku. Dengan segala keberaniannya (Nekad dan berani kadang sangat tipis sich bedanya…), dia berkunjung ke rumahku (yang nyata nyata ada di ‘antah berantah’) dan tanpa tedeng aling-aling, dia langsung memintaku pada kedua ortuku. Aku dilamar!!! Entah gimana perasaanku saat itu, yang pasti aku pun tak lagi ragu untuk bilang “iya” :).
Untuk seseorang yang telah menjadi cahaya hatiku, Tak pernah ada niatan di hati ini untuk menggantung hatimu sekian lama. Atau ku hanya menguji keseriusanmu selama satu warsa itu. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin ketika aku mengatakan “iya”, maka sepenuhnya hatikupun mengatakan hal yang sama. Dan sekarang, karena semua nya telah kulewati, tak ada lagi keraguan di hatiku. Karena aku telah menempanya lebih lama, jauh sebelum kau hadir sebagai ‘penteror cinta’ ;)
Biru Laut, 160307, 11.50 am
|
posted by eeya @ 3:30 PM   |
|
|
|
|
| Article 10 |
Kisah Klasik Untuk Masa Depan …………………. Bersenang-senanglah Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan Bersenang-senanglah Sampai jumpa kawanku S'moga kita selalu Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan Sampai jumpa kawanku S'moga kita selalu Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan ……………………………………………………………………………
Penggalan lirik lagu Sheila on Seven di atas mengajak pikiranku mengembara kembali ke masa 5 tahun ke belakang…Saat dimana kebersamaan bersama mereka begitu terekam rapih di memori ini…Dan ketika pada suatu malam, saat telinga ini diperdengarkan alunan lembutnya…liriknya mengingatkanku pada video klipnya.
Video klip yang sederhana tapi bermakna dalam buatku dan keempat sahabatku. Video klip lagu ini mengisahkan tentang persahabatan antara 5 orang anak manusia yang selalu bersama-sama dalam suka dan duka yang pada akhirnya mereka harus berpisah demi mencapai cita-citanya.
Sama persis dengan video klip SO7, kami bersahabat tiga orang cewek dan 2 orang cowok. Dimulai ketika masuk kuliah. Merasa cocok satu sama lain (Meski dengan 5 karakter dan latar belakang yang berbeda), selanjutnya kami menjadi dekat dan selalu menjadi team yang sangat kompak. Entah itu dalam hal kuliah ataupun ‘gaul’ di luar kampus. Tak heran jika beberapa teman menganggap kami ‘ekslusif’, terkesan kami ‘kebal’ terhadap ‘sentuhan’ luar. Padahal sama sekali tidak. Kami hanya merasa, di luar kami, pemikirannya berbeda dan ketika kami mencoba bertahan untuk waktu yang agak lama dengan mereka, tak ayal yang kami rasakan adalah ‘garing’, tak berbumbu sama sekali dan…hambar…
5 pribadi yang tergabung menjadi satu (Aku, Yoen, Cha, Fai dan Na). 3 dari kami (Yoen, Cha dan Na) adalah anak-anak yang sudah tersentuh aroma metropolis. Lahir dan besar di Paris Van Java. Tentu dengan segala hal yang mengikutinya. Sementara aku dan Fai adalah putra putri daerah yang karena minat dan kehendak menuntun kami bertemu dalam satu nada juang. Sungkan di awal, lebih tepat minder…Karena aku bukanlah anak gaul seperti mereka. Untunglah (mungkin) ada sesuatu yang sedikit bisa kutunjukkan pada mereka. Tak lain itu adalah sebuah tekad!!! Tekad untuk bisa berjuang sampai akhir. Jika memungkinkan…Harus menjadi yang pertama!!!
Meski satu sama lain cocok, tetap saja, tak sama langkah berderap. Kadang satu kaki kiri, yang lain kaki kanan sudah terayun. Tak jarang satu dua dari kami berlari kencang, sementara yang lain cukup hanya berjalan tenang, itupun masih sempatnya bersiul dan lirik kanan kiri.
Sejak awal, aku tahu, aku bisa berada di tengah-tengah mereka karena lelehan keringat dan doa-doa yang terlantun panjang dari kedua orang tua dan keluarga besarku. Maka ketika kaki pertama kali berpijak di kampus. Peletakan batu pertamaku adalah niat. Melesat kilat, apapun keadaannya…Hanya Fai dan Yoen yang memiliki cita-cita yang sama denganku, ketika itu.
2 semester awal, kami hampir menghabiskan semua waktu ber 5. Dari mulai mengerjakan tugas, praktikum, sampai hanya sekedar makan atau jalan-jalan. Rasanya semua menjadi lebih mudah ketika dikerjakan bersama-sama.
Keadaan ternyata tidak selalu seperti yang diharapkan. Mulai semester 4, kami sudah mulai merasakan berlainan arah. Aku, Yoen dan Fai jauh meninggalkan dua temanku yang lain. Harapanku masih besar. Setidaknya aku bisa merayakan kelulusan kelak bersama dua orang teman dekatku. Lagi-lagi meleset. Kerja praktek mengharuskan kami (aku dan dua temanku itu) memilih perusahaan berbeda. Di luar dugaanku Cha malah menjadi partnerku hingga kelak aku meraih apa yang kuharapkan.
Tak pernah terpikirkan oleh kami. Segala sesuatunya akan berubah dengan sangat cepat, tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Kami yang sejak awal merintis kebersamaan dari perbedaan yang kami miliki (si perfeksionis, si bijak, si cuek, si sabar, si cool bergabung menjadi satu), akhirnya menemukan jalan sendiri sendiri, yang hampir saja ‘memporakporandakan’ rumah yang telah kami bangun dengan susah payah. Untunglah pondasi nya masih cukup kokoh untuk menyangga, sehingga meski dalam keadaan bocor sana sini, kami masih bisa ‘menambalnya’.
Dalam perjalanannya, Alhamdulillah Oktober 2003, aku lulus bareng Cha. Salut buwat temanku yang satu ini, dia bisa menyalip Yoen & Fai dengan segala ‘keribetannya’ ;). Satu tahun kemudian Yoen baru bisa merampungkan kuliahnya. Mei 2005 menyusul Fai. Sementara Na, masih ‘setia’ dengan TA nya hingga saat ini (Ayo! Na! Semangat!).
Persahabatan adalah segalanya. Hanya kalimat itu yang hingga kini masih merekatkan kami. Kini kami terpisah jarak. Hanya aku, Yoen dan Cha yang kadang masih ketemu. Kami bertiga telah menjejakkan kaki, mencoba menaklukan kejamnya Ibukota –hallah-. Sementara Fai dan Na masih tetap berjuang (dengan caranya sendiri) demi masa depannya.
Januari 2006, Cha mengakhiri masa lajangnya. Mengakhiri segala resah dan syak prasangka yang selama akhir2x kuliah dan setelahnya mencengkram hatinya. Kemudian dengan keyakinannya, dia segera mengambil keputusan, dan itulah keputusan terbaik untuknya. Kami berempat bahagia mendengarnya. Meski mungkin ada hati yang terluka, tapi itulah hidup. Penuh dengan pilihan-pilihan. Dan kemarin, aku dikejutkan dengan e-mail dari temanku itu. Dia mengabarkan bahwa kini di rahimnya telah hidup makhuk kecil yang 8 bulan ke depan akan segera meramaikan dan melengkapi kebahagiaan hidupnya. Ah! Senangnya…Alhamdulillah :).
Temanku setelah itu berkata “Adalah hal paling membahagiakan ketika kutahu, 4 bulan ke depan, temankupun akan menggenapkan separuh agamanya. Menyandarkan cinta pada orang yang tepat. Setelah selama ini dia berlayar tanpa pernah menepi. Dia telah melangkah, dan inilah buah dari perjuangannya mencari cinta sejati selama ini”
Aku tersenyum membacanya. Barakallahu laka…Semoga barokah. Dan bagaimanapun bentuknya, persahabatan itu akan tetap indah. Dan semua cerita yang telah dan pernah terukir akan menjadi kisah klasik untuk masa depan yang akan memberikan banyak pelajaran hidup. Semoga!!!
Biru Laut,150307, 05.30 pm |
posted by eeya @ 3:15 PM   |
|
|
|
|
|